Friday, September 26, 2014

kita

rasanya sulit sekali meninggalkan yogyakarta malam itu.
ya. 
untuk pertama kali rasanya sulit mengucapkan selamat tinggal.
sulit beranjak dari tempat duduk di area tunggu stasiun ke samping peron untuk naik kereta.
bukan karena sudah sangat betah.
tapi karena bagiku ini sebuah penyangkalan perasaan.

kamu di mana?
gimana kalau perjalanan ini adalah perjalananan terakhirku?
gimana kalau kita tidak pernah bertemu lagi?
apakah pada akhirnya kamu mulai bosan?
bodoh memang, tapi pertanyaan-pertanyaan itu semakin giat meracuni pikiranku.
membuat logika kalah dengan perasaan.
membuat rasanya ingin menangis.

akhirnya aku naik kereta juga setelah sekian lama diam.
dan kamu belum juga menjawab pertanyaan itu.
aku tidak ingin menyangkal perasaan ku sendiri yang mati-matian memaksa untuk menunggu.
memaksaku untuk diam dan mencoba menghubungi mu lagi walaupun kenyataannya tidak pernah ada awaban.

bagaimana bisa dengan enak aku terlelap malam itu disaat kamu bahkan belum mengucapkan selamat jalan atau sampai jumpa lagi?
pada akhirnya, sampai saat aku melangkahkan kaki di stasiun favoritku sepanjang masa, kamu belum juga memberi kabar.

terimakasih.
karena tak pernah berhenti memintaku menunggu.
karena selalu membuatku menunggu.
karena tidak pernah memberiku opsi lain selain menunggu.

pertanyaannya kini cuma satu.
apakah ini kita? atau cuma kamu dan aku?