Wednesday, November 19, 2014

everyone has their own happiness

pernah melihat bintang malam hari dan menyadari mereka tidak lebih sedikit dari banyaknya pasir di pantai?
aku pernah.
pernah mendengar lagu lama yang tidak sengaja terputar di supermarket, saat kamu mampir untuk membeli sesuatu, dan merasa sangat bahagia sampai tersenyum sendiri serta memutuskan untuk tidak langsung pulang sampai lagunya selesai?
aku juga pernah.

semua orang di dunia ini berhak atas kebahagiaannya sendiri, mau kecil mau besar. mau sempurna atau tidak.


some infinities are bigger than others infinities.
apa yang kamu pikir menyenangkan mungkin buat orang lain tidak menyenangkan. begitu sebaliknya. 

mungkin bagi sebagian orang, merencanakan pergi ke suatu tempat -sebut saja pantai- tanpa mengajak teman-teman adalah hal yang wajar.
di mana sebagian lain, hanya untuk menunggu seorang temannya yang berhalangan ikut, mereka rela menunggu berminggu-minggu untuk pergi ke suatu tempat -lagi" pantai- hanya supaya temannya itu bisa ikut.

see?

terkadang apa yang kamu anggap sebagai 'your infinities' tidak berarti sebesar itu bagi tiap orang.

ya, 

dan jika kita berfokus pada 'infinities'-nya orang lain, kita tidak akan mempunyai 'our own infinities'

ngerti?

tapi ya sakit juga sih saat udah nganggep seseorang sebagai 'infinities' nya kita, tapi mereka nganggep kita ada aja engga. (well, yang ini writer's issue)

another point is, everyone has their own happiness.

terkadang ini ngegedein hati gue saat liat sesuatu yang memicu envy-ness di insta ato ga sengaja denger orang ngmg apa.

kebahagiaan gue dulu mungkin ada elo nya, tapi bukan berarti hari ini ato besok-besok kebahagiaan gue sama elo. ato sebaliknya.
jadi yaaaa, nikmatin aja apa yang lo punya sekarang
mungkin sekarang adalah saatnya lo cuman bisa love moment sahabat lo di path tanpa menjadi bagian dari moment itu.
tapi itu bukan berarti lo ga punya moment kan?

semua orang punya kebahagiaannya masing-masing.
kebahagiaan yang lo pilih sekarang aja dinikmatin dulu.
who knows, besok udah beda lagi kebahagiaannya.
ya kan?

Friday, September 26, 2014

kita

rasanya sulit sekali meninggalkan yogyakarta malam itu.
ya. 
untuk pertama kali rasanya sulit mengucapkan selamat tinggal.
sulit beranjak dari tempat duduk di area tunggu stasiun ke samping peron untuk naik kereta.
bukan karena sudah sangat betah.
tapi karena bagiku ini sebuah penyangkalan perasaan.

kamu di mana?
gimana kalau perjalanan ini adalah perjalananan terakhirku?
gimana kalau kita tidak pernah bertemu lagi?
apakah pada akhirnya kamu mulai bosan?
bodoh memang, tapi pertanyaan-pertanyaan itu semakin giat meracuni pikiranku.
membuat logika kalah dengan perasaan.
membuat rasanya ingin menangis.

akhirnya aku naik kereta juga setelah sekian lama diam.
dan kamu belum juga menjawab pertanyaan itu.
aku tidak ingin menyangkal perasaan ku sendiri yang mati-matian memaksa untuk menunggu.
memaksaku untuk diam dan mencoba menghubungi mu lagi walaupun kenyataannya tidak pernah ada awaban.

bagaimana bisa dengan enak aku terlelap malam itu disaat kamu bahkan belum mengucapkan selamat jalan atau sampai jumpa lagi?
pada akhirnya, sampai saat aku melangkahkan kaki di stasiun favoritku sepanjang masa, kamu belum juga memberi kabar.

terimakasih.
karena tak pernah berhenti memintaku menunggu.
karena selalu membuatku menunggu.
karena tidak pernah memberiku opsi lain selain menunggu.

pertanyaannya kini cuma satu.
apakah ini kita? atau cuma kamu dan aku?

Friday, August 8, 2014

delapan agustus 2014

entah berapa malam lagi. entah berapa lama. entah berapakali lagi saya harus seperti ini.
mengulang tawa yang sebelumnya pernah ada. memanggil kembali cerita yang rasanya tidak pernah berkesudahan.
bahkan melihat 1 foto saja rasanya sudah menghilng dari tempat saya diam sekarang selama setengah jam.
menutupnya adalah tindakan yang dirasa paling berat.
apalagi menghapusnya.
entah apa ini.
saya terus bertanya padahal jawabannya sudah ada di depan mata. selalu di depan mata.
ah saya pun bingung harus bagaimana.
awalnya sudah sulit ditambah lagi seakan semuanya mempersulit.

menjembatani adalah kata yang salah, karena bahkan tidak ada lagi jarak disana.
apalagi menghubungkan.
seakan semua emosi sudah bersinergi membentuk pemahaman tak terpetakan satu sama lain.
tidak ada yang perlu dijembatani.
rasanya seperti jalan di sebuah jalan kecil yang sangat terang tapi sempit.
semuanya jelas, semuanya tampak nyata tapi menjemukan.
semuanya jawaban benar sudah tersaji namun masih saja pilihan sulit yang diambil.
berjalan lagi sampai gelap.
padahal lorong itu mengarah pada sebuah masa yang tidak terbatas.
dunia yang entah dimana dan entah siapa yang tahu.

semuanya terlalu jelas sampai kejelasan itu yang menimbulkan ketidakjelasan.
bahkan ketidakjelasan itu jelas.
entahlah.

Wednesday, July 9, 2014

buat kamu

mendoakan adalah cara terbaik untuk merindukan.
entah sudah berapa doa yang kuselipkan namamu diantaranya yang didengar Tuhan malam ini.
bahkan mungkin Ia sudah bosan mendengarnya lantas menutup telinga.
tapi Ia menyampaikannya bukan?
lewat mimpimu semalam :)

jika disuruh memilih dia atau kamu, mungkin jawabannya tidak secepat kamu bertanya pilih martabak atau bakmi jawa. maafkan aku.
perlu jeda. perlu keyakinan dan pengertian.
maaf menuntutmu terlalu banyak.
tapi bisakah kamu menunggu?
ini hanya masalah waktu.
tidak akan lama, aku janji.

terimakasih.
buat semuanya, maaf belum bisa menjadi apa yang kamu harapkan.
tapi aku terus berusaha, kamu lihat?
aku butuh kamu. percayalah :")

"karena sekiranya waktu adalah satu-satunya hal di duna ini yang terukur dengan skala yang sama bagi setiap orang, tapi memiliki nilai yang berbeda bagi setiap orang." ika natassa

Thursday, January 16, 2014

GOODBYESUCK! (1)




i hate goodbyes. they say there're always good in goodbye, but i think its not. goodbye always, suck.
good-bye; good and bye.
kita liat arti katanya ya 'good' itu baik dan 'bye' itu dadah, artinya kan dadah yang baik-baik? bego kan, kenapa kita harus ninggalin kalo hal itu baik? bukannya yang baik itu harus dipertahanin?
ato bisa juga diartiin dadah yang baik. apaan dadah mah ga baik, yang baik itu ibu gua, yang udah ngelahirin dan ngegedein gua. ya ngga?

yang jelas gua benci perpisahan, dadah-dadah, dan segala hal yang berbau goodbyes. pake 's' karena di dalam hidup kita ga bakal cuma bertemu sama 1 goodbye. dari kecil kita udah ketemu sama yang namanya perpisahan, ya secara langsung ngga langsung sih.

dari bayi kita pertama banget, pisah sama mainan kita pas kita udah lebih besar. pisah dari box dan pindah ke kamar tidur. trus pas SD pisah sama temen-temen kita di TK, begitu juga pas masuk SMP, kita harus pisah sama kehidupan kita di SD. orang tua kita juga pisah sama kita yang seneng cerita karena kita lebih memilih cerita ke temen kita dibanding sama mereka.

waktu masuk SMA favorit kita, kita harus pisah jalan sama temen-temen kita yang milih masuk swasta ato sebaliknya. pas milih jurusan, lagi-lagi pisah sama teman kita yang beda jurusan. pas lulus SMA acara perpisahan dibikin gede-gedean, semua dandan abis-abisan buat malam terakhir sebagai anak SMA, pake dress cantik yang cewek dan yang cowo kece banget pake jas, padahal akhir malem itu diabisin buat nangis-nangisan doang trus pulang.

sedih sih sedih. janjinya bakal ketemu lagi, ya pasti ketemu sih, cuman pernah ngga kalian mikir, setelah sebuah perpisahan pasti ada yang berubah. 

pisah. berubah. gitu terus. ya emang kodratnya kita semua bergerak, even times fly. waktu yang bergerak paling cepat, dia terbang. dinamis, ga ada yang statis. 

buat yang rajin baca postingan gue, tema ini udah pernah gua bahas. ya emang guanya aja sih yang sensitif banget sama goodbyes. apalagi sekarang gua bakal pisah sama teman-teman terbaik gua.

dibalik pisah pasti ada pilihan, dan kadang pilihan itu juga yang bikin perubahan. temen-temen gua ini memilih untuk tidak meneruskan jalannya yang sama sama gue, tapi memilih jalan baru.

well 2014 not that smooth for me from the beginning.

GOODBYESUCK! (2)

I hate goodbyes,  especially those which come in the middle of my journey, not in the end.

Orientasi gua kalo soal perpisahan itu selalu ada di akhir cerita. Yang ditengah-tengah itu sakit. Unprepared, dadakan, failed surprise karena itu tentang berpisah.

Pas Sherina tau bapak nya harus pindah padahal dia masih sekolah, semuanya terasa salah, kan? Karena itu perpisahan di tengah-tengah. Coba kalo emang dia udah lulus SD trus pindah, it won’t be any matter.

Mungkin perjalanan gua saat ini sangat berat sampe banyak saudara gua yang gugur, memilih untuk tidak lagi berjuang, memilih untuk tidak lagi di jalan ini.

Sampe saat ini gua masih benci diri gua sendiri yang ga bisa ngapa-ngapain. Ga bisa bilang ke mereka untuk tetap berjuang, ga bisa cegah mereka untuk pergi.  Juga benci sama mereka yang memilih pergi, kalo emang bisa milih, kenapa milih pergi? Kenapa milih (lagi-lagi) perpisahan?

Gua ga suka perpisahan, gua ga suka harus buka lembaran baru lagi dan mulai dari awal kalo yang di halaman sebelumnya buat gua udah sangat cukup.

Mereka yang pergi bakal punya sesuatu yang baru. Mereka bakal berubah, kalaupun nantinya kita berada di 1 lembar yang sama sekali lagi, mereka ga akan menumpahkan warna warna indah seperti yang mereka kasih di lembar sebelumnya. Mereka dan gua berubah, setelah proses adaptasi di lembar baru kita masing-masing, kita bakal punya warna yang berbeda.

Dan pengalaman gua tentang warna yang berbeda adalah bukan saling melengkapi, tapi saling beerbenturan menciptakan kecanggungan dan akhirnya lebih baik tidak dipertemukan lagi di lembar yang sama lainnya.

Kadang gua muak sama perpisahan. Gua seringkali gabisa liat good in goodbyes yang terjadi di hidup gua.

Well, pesimistic sekali tulisan gua di atassssss –“
Emang ga ada upaya buat positive ya di atas, faktor gua lagi ngerasain mau pisah tanpa bisa berbuat apa-apa dan emang gua udah punya pengalaman buruk sama perpisahan. Harap maklum ^^

Buat saudara-saudara gua yang memilih pergi. Kasihanilah gua yang harus berjuang tanpa kalian yang bisa bikin gua ketawa lepas saat gua hampir lupa caranya ketawa. Kasihanilah gua yang harus survive di neraka itu ngga sama kalian.

Buat yang baca postingan ini jangan jadi negative-pesimis sama yang namanya perpisahan. There’s always good in goodbyes. Mungkin, gua udah ngerasain good-nya, cuman belom sadar aja.


Hope you easily find your good in goodbye ya! Ga kaya gua yang susah banget say goodbye dan move on. Hehehe! Have a lovely 2014 by the way! Spread the love!!!