I hate goodbyes,
especially those which come in the middle of my journey, not in the end.
Orientasi gua kalo soal perpisahan itu selalu ada di akhir
cerita. Yang ditengah-tengah itu sakit. Unprepared, dadakan, failed surprise
karena itu tentang berpisah.
Pas Sherina tau bapak nya harus pindah padahal dia masih
sekolah, semuanya terasa salah, kan? Karena itu perpisahan di tengah-tengah. Coba
kalo emang dia udah lulus SD trus pindah, it won’t be any matter.
Mungkin perjalanan gua saat ini sangat berat sampe banyak
saudara gua yang gugur, memilih untuk tidak lagi berjuang, memilih untuk tidak
lagi di jalan ini.
Sampe saat ini gua masih benci diri gua sendiri yang ga bisa
ngapa-ngapain. Ga bisa bilang ke mereka untuk tetap berjuang, ga bisa cegah
mereka untuk pergi. Juga benci sama
mereka yang memilih pergi, kalo emang bisa milih, kenapa milih pergi? Kenapa milih
(lagi-lagi) perpisahan?
Gua ga suka perpisahan, gua ga suka harus buka lembaran baru
lagi dan mulai dari awal kalo yang di halaman sebelumnya buat gua udah sangat
cukup.
Mereka yang pergi bakal punya sesuatu yang baru. Mereka bakal
berubah, kalaupun nantinya kita berada di 1 lembar yang sama sekali lagi,
mereka ga akan menumpahkan warna warna indah seperti yang mereka kasih di
lembar sebelumnya. Mereka dan gua berubah, setelah proses adaptasi di lembar
baru kita masing-masing, kita bakal punya warna yang berbeda.
Dan pengalaman gua tentang warna yang berbeda adalah bukan
saling melengkapi, tapi saling beerbenturan menciptakan kecanggungan dan
akhirnya lebih baik tidak dipertemukan lagi di lembar yang sama lainnya.
Kadang gua muak sama perpisahan. Gua seringkali gabisa liat
good in goodbyes yang terjadi di hidup gua.
Well, pesimistic sekali tulisan gua di atassssss –“
Emang ga ada upaya buat positive ya di atas, faktor gua lagi
ngerasain mau pisah tanpa bisa berbuat apa-apa dan emang gua udah punya
pengalaman buruk sama perpisahan. Harap maklum ^^
Buat saudara-saudara gua yang memilih pergi. Kasihanilah gua
yang harus berjuang tanpa kalian yang bisa bikin gua ketawa lepas saat gua
hampir lupa caranya ketawa. Kasihanilah gua yang harus survive di neraka itu
ngga sama kalian.
Buat yang baca postingan ini jangan jadi negative-pesimis
sama yang namanya perpisahan. There’s always good in goodbyes. Mungkin, gua
udah ngerasain good-nya, cuman belom sadar aja.
Hope you easily find your good in goodbye ya! Ga kaya gua
yang susah banget say goodbye dan move on. Hehehe! Have a lovely 2014 by the
way! Spread the love!!!
No comments:
Post a Comment