Monday, November 21, 2016
ambisi atau tidak berambisi
Saturday, October 29, 2016
Filosofi kulit bambu
Pada suatu masa di zaman kealayan dan Ke-cinta monyet-an gua, gua pernah pergi ke suatu tempat buat ikutan semacam latihan dasar kepemimpinan gitu (namanya aja sih yg keren).
Pada sebuah sesi, seluruh peserta disuruh melambangkan hidup mereka, diri mereka jadi satu buah benda yang bisa mereka temukan di sekitar mereka.
Ada yang milih jadi penghapus, bunga, daun, dsb.
Pilihan gua adalah menjadi kulit bambu. Kebetulan kulit yg bisa di ambil cuma yang udah jadi sampah dan jatuh di bawah. Dramatis abis.
Gua inget banget gua bilang soal arti dari kulit bambu yang gua ambil.
Dengan sok bijak sok malaikat, gua ngomong begini:
Gua melambangkan diri gua sebagai kulit bambu. Waktu jadi rebung, kulit ini yang jagain rebung-rebung tsb buat berkembang dan jadi gede. Dilindungin dari panas, dari angin, dari hujan. Kulit bambu begitu setia nemenin dari kecil.
Makin lama, rebung itu tumbuh semakin tinggi, kulit bambu coba ngikutin dia, tapi ada masanya kulit bambu tersebut kering dan jatuh ke tanah.
Merelakan dirinya habis untuk melindungi bambu sepanjang hidupnya.
Gua pengen jadi kulit bambu buat orang-orang sekitar gua. Gua pengen mereka berkembang, walaupun itu berarti gua yang harus relain semuanya.
Sedih ya? Itu anak kelas 3 smp bisa ngomong gitu :))))
Everything happens for a reason.
Kaya kalimat gw itu, kelas 3 smp. Dan jawabannya sekarang.
Buat lo yg butuh gua cuma buat jadi kulit bambu lo doang. Berkembang, belajar, mendewasakan waktu sama gua tapi trus saat lo tau apa yang baik buat lo, lo pergi.
Ya. Lagi-lagi kulit bambu.
At least I mean that much in your life.
Someday, at any part of your life, you can look what I've done to you and thank me a lot :))))
Menjadi kulit bambu lagi.
Bagian paling menyebalkan saat jadi kulit bambu adalah melepaskan. Pada suatu hal yang sudah kita kenal sejak awal, yang sudah kita anggap keberadaan nya sebagai bagian dari diri kita sendiri. Padahal tidak.
Saat dia bergerak, kita yang mengikuti nya. Itulah mengapa saat dia memutuskan untuk pergi, kita harus tunduk pada keputusan nya dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Terimakasih dan maaf.
Terimakasih atas kesempatan buat menyadari sudah saatnya gua nyari sesuatu yang lebih besar dari rebung bocah yang perlu di lindungi.
Maaf, bareng gua lo harus terus bergerak. Berkembang. Dipenuhi tuntutan dan apitan.
I hope you are doing well. I hope you're better. :)))