Monday, November 21, 2016

ambisi atau tidak berambisi

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang lagi nulis skripsi ............

yap. that's me. in my last year -padahal udah 4.5 taun- bergelut dengan topik yang sama.
many of my friends say that i wasnt supposed to be here. harusnya udah lulus, harusnya udah wisuda.

Well, semesta berkata lain.
Bukan bermaksud sombong -sedikit iya- tapi nilai akademis dan IPK gua selalu diatas rata-rata. Tapi ya ini, masalah skripsi kayanya ga kelar-kelar.

Masalahnya cuma satu. TOPIK.

As a psychology student, gua diharuskan untuk memilih minat dan menulis skripsi berdasar minat kita. segabai mahasiswi gemilang gua udah punya minat dari gua semester enam -sekarang gua semester sembilan- dan gua udah mendalami minat gua total dua semester. 
Keren ya? disaat temen-temen gua masih pada bingung nentuin minat, gua udah yakin dan sangat amat cinta topik gua.

semester 8. what a rough one.
karena topik yang gua ambil sedikit peminat dan tergolong 'unik' -saking uniknya ga ada jurnal berbahasa indonesia yang bisa gua baca- susah juga nyari dosen yang bisa 'memfasilitasi' topik ini. 
at some point my lecturer say, 'kamu udah jatuh cinta sama topik ini, itu hal yang pantang kamu lakukan sebenarnya'
itu saat pertama gua jatuh. 
lalu ada jatuh yang kedua
ketiga..
keempat...
sampe sekarang gua harus bener-bener ngelepas topik yang udah jadi minat gua selama 2 tahun, di jatuh gua yang ketujuh.

kadang bingung.
kapan harus berhenti dan berpindah haluan saat ambisi lo besar banget di sana.
I've been trough that same question for years.

memilih berambisi atau tidak berambisi.
tetep ga ada jawaban.

dan tetap bingung.

saat lo berambisi, perjuangan seberat apapun terasa challenging, menarik banget buat di kerjain. 
saat ambisi lo ilang, semua ilang. alasan lo, motivasi lo. bahkan keinginan buat berhenti jauh lebih besar ketimbang saat lo tetep dengan ambisi lo tapi lo gagal.

like DAMN. i lose myself.

like most people usually talk about passion, about life with or without ambition.....

lets see the positive side.
gua jadi paham benar bahwa gelar sarjana adalah gimana lo nyelesaiin skripsi secepatnya, klo topik lo sesuai dengan minat lo berarti lo beruntung, kalo engga ya udah. yang penting cepet.

so this is me struggling with my work. 
just wish me luck :)

Saturday, October 29, 2016

Filosofi kulit bambu

Pada suatu masa di zaman kealayan dan Ke-cinta monyet-an gua, gua pernah pergi ke suatu tempat buat ikutan semacam latihan dasar kepemimpinan gitu (namanya aja sih yg keren).
Pada sebuah sesi, seluruh peserta disuruh melambangkan hidup mereka, diri mereka jadi satu buah benda yang bisa mereka temukan di sekitar mereka.
Ada yang milih jadi penghapus, bunga, daun, dsb.

Pilihan gua adalah menjadi kulit bambu. Kebetulan kulit yg bisa di ambil cuma yang udah jadi sampah dan jatuh di bawah. Dramatis abis.

Gua inget banget gua bilang soal arti dari kulit bambu yang gua ambil.
Dengan sok bijak sok malaikat, gua ngomong begini:
Gua melambangkan diri gua sebagai kulit bambu. Waktu jadi rebung, kulit ini yang jagain rebung-rebung tsb buat berkembang dan jadi gede. Dilindungin dari panas, dari angin, dari hujan. Kulit bambu begitu setia nemenin dari kecil.
Makin lama, rebung itu tumbuh semakin tinggi, kulit bambu coba ngikutin dia, tapi ada masanya kulit bambu tersebut kering dan jatuh ke tanah.
Merelakan dirinya habis untuk melindungi bambu sepanjang hidupnya.
Gua pengen jadi kulit bambu buat orang-orang sekitar gua. Gua pengen mereka berkembang, walaupun itu berarti gua yang harus relain semuanya.

Sedih ya? Itu anak kelas 3 smp bisa ngomong gitu :))))
Everything happens for a reason.
Kaya kalimat gw itu, kelas 3 smp. Dan jawabannya sekarang.

Buat lo yg butuh gua cuma buat jadi kulit bambu lo doang. Berkembang, belajar, mendewasakan waktu sama gua tapi trus saat lo tau apa yang baik buat lo, lo pergi.
Ya. Lagi-lagi kulit bambu.
At least I mean that much in your life.
Someday, at any part of your life, you can look what I've done to you and thank me a lot :))))

Menjadi kulit bambu lagi.
Bagian paling menyebalkan saat jadi kulit bambu adalah melepaskan. Pada suatu hal yang sudah kita kenal sejak awal, yang sudah kita anggap keberadaan nya sebagai bagian dari diri kita sendiri. Padahal tidak.

Saat dia bergerak, kita yang mengikuti nya. Itulah mengapa saat dia memutuskan untuk pergi, kita harus tunduk pada keputusan nya dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Terimakasih dan maaf.
Terimakasih atas kesempatan buat menyadari sudah saatnya gua nyari sesuatu yang lebih besar dari rebung bocah yang perlu di lindungi.
Maaf, bareng gua lo harus terus bergerak. Berkembang. Dipenuhi tuntutan dan apitan.

I hope you are doing well. I hope you're better. :)))